Tuesday, October 25, 2016

C. PETER WAGNER (AUGUST 15, 1930 - OCTOBER 21, 2016)


I first knew C. Peter Wagner from his books – I was then still in my high school. Between 1991-1994, I was instrumentally active in National Prayer Network. In those years, Peter Wagner’s books are to me must to read. Through the chairman and the founder of National Prayer Network, Dr. Iman Santosoand his library, my knowledge of Peter Wagner grew. In 1993, National Prayer Network facilitated a meeting for church leaders to arrange for Peter Wagner to come to Indonesia to speak on a National Prayer Conference. The meeting was led by the late Reverend Jerimia Rim only a week before his passing. The late Jerimia Rim had been in conversation with Peter Wagner and planned to invite him to Indonesia the following year. He also introduced to and invited participants of that meeting to attend Global Consultation on World Evangelization (GCOWE) in Seoul, Korea(1995) in which Peter Wagner was one of important figures of the movement.

I was appointed to be member of steering committees for 1994 Indonesia Berdoa, a national prayer conference in which Dr. Peter Wagner was the main speaker. Gereja Kristus Yesus, an evangelical Chinese church hosted the conference. More than 3,000 Christian leaders attended that prayer conference. I had the opportunity to talk with him personally during one meal. That conversation focused on united prayer movement and global mission. At the end, we also talked about the plan for 1995 GCOWE and the likelihood for me to study at Fuller School for World Mission.

Few months after that conversation, I went to pursue my theological education not in Fuller, but in Chicago. In those years, I was introduced more to Dr. Wagner’s works – some of them are course required readings. His contributions in theological education, mission and Christian life are without doubt significant. Together with Donald McGavran, he is called the father of church growth movement. His writing covers the wide area of spiritual gifts, spiritual warfare, church planting, church growth, mission, Christian leadership, and the history of Pentecostalism and the Charismatic movement. It is interesting to me to know that those wide ranges of topics are all by Dr. Wagner related to mission and church ministry. Among his works, The Third Wave of the Holy Spirit is my favorite. The book inspires me to looking forward for the fourth, fifth, sixth and seventh waves.

I had some e-mail conversation with him during my stay in Chicago, but never get a chance to meet with him again. I am thankful for his significant contributions that influenced many theologians, missiologistsmissionaries and churchgoers. From his testimonies, I am also grateful to understanding him as a significant academic figure whose encounter with the Holy Spirit is real and alive. In Dr. Wagner’s life, one sees the Gnosisand the Pneuma come together integrally and in harmony.

Thursday, August 18, 2016

EV. DRG. YUSAK TJIPTO (12/03/1935-23/06/2016)




Satu persatu orang-orang yang besar pengaruhnya di dalam masa-masa awal kehidupan iman dan kerohanian saya dipanggil pulang ke rumah Bapa. Pa Yusak, demikian saya biasa membahasakan Penginjil dokter gigi Yusak Tjipto. Saya dan beliau sama sekali tidak memiliki sejarah hubungan yang istimewa. Apakah saya senang mendengar kotbah-kotbah dan pengajaran beliau? Secara jujur, saya senang mendengarkannya. Apakah saya setuju dengan segala hal yang diajarkan oleh beliau? Saya tidak dapat menjawabnya. Setiap kali saya mendengarkan kotbah, saya menetapkan diri untuk belajar tentang sesuatu yang tidak sekedar mengenyangkan otak dan memuaskan pemahaman saya mengenai kebenaran,  namun terlebih penting adalah tentang sesuatu yang berguna bagi kehidupan. Dibalik segala pertentangan tentang pribadi pa Yusak dan segala yang pernah diajarkan serta dikotbahkannya, saya mencatat setidaknya dua  kontribusi beliau yang sangat penting dan mendasar bagi kehidupan iman Kristen dan kehidupan saya sendiri. Apa yang akan saya tuliskan ini, saya yakin tidak hanya sebatas perkataan-perkataan yang indah, namun sesuatu yang hidup di dalam hati pa Yusak.

Pada saat saya masih SMA (tahun 1986 atau 1987), untuk pertama kalinya saya bertemu dengan pa Yusak. Waktu itu beliau sedang berkotbah di salah satu ruangan di Hotel Borobudur, Jakarta. Saya masih sangat belia dan bukan siapa-siapa bahkan bukan tamu yang diundang hadir dalam pertemuan tersebut. Saat itu saya hanya sekedar membantu  panitia angkat ini dan itu. Setelah pa Yusak selesai berkotbah, ia duduk sendiri di dekat pintu ruangan ibadah, Kebetulan tidak ada orang lain yang sedang berbincang dengannya. Saya menghampiri beliau untuk bertanya dan minta nasihat jika seandainya saya ingin menjadi hamba Tuhan. Memang pada saat saya duduk di bangku SMA, mulai ada kerinduan untuk melayani Tuhan, namun saya belum yakin benar. Ini kira-kira kata pa Yusak dengan logatnya yang khas: “Sembahyang – Tanya sama Tuhan.” Well, jawabannya to the point dan menurut saya tepat sasaran. Meskipun tidak salah meminta nasihat orang lain di dalam memahami panggilan Tuhan, pa Yusak mengingatkan bahwa yang terpenting dan yang paling mendasar adalah bertanya kepada Tuhan sendiri. Kita tidak perlu membuat jurang untuk memisahkan hikmat Tuhan dan hikmat manusia, karena tidak jarang nasihat manusia juga berasal dari Tuhan – namun betapa sering kita ‘terburu-buru’ bertanya dan tidak jarang mengandalkan hikmat manusia tanpa pernah bertanya kepada dan minta pimpinan Tuhan yang sesungguhnya memanggil kita? Pada masa-masa itu saya banyak bertanya kepada hamba-hamba Tuhan mengenai panggilan hidup saya dan kerinduan untuk terlibat dalam pelayanan sepenuh waktu. Jawaban pa Yusak terasa berbeda dan khusus. Tidak berarti hamba Tuhan yang lain salah menjawab, namun pa Yusak berbeda: “Sembahyang - Tanya sama Tuhan.” He nailed it. Saya pikir itu yang paling mendasar sebelum bertanya pada orang lain sehebat apapun orang tersebut.

Kali waktu yang lain saya mendengar rekaman sesi tanya jawab antara pa Yusak dan peserta ibadah. Pertanyaannya sesungguhnya sederhana: Bagaimana cara membedakan suara Tuhan dan suara Setan? Jawaban pa Yusak ternyata jauh lebih sederhana lagi: “Aku ndak tahu.” Jemaat tertawa. Pa Yusak melanjutkan, “Soale aku kan bukan Tuhan dan bukan Setan!” Jemaat tertawa terbahak. Jemaat seakan tidak sadar bahwa pa Yusak sesungguhnya serius. Lalu pa Yusak melanjutkan kira-kira begini: “Bagaimana caranya para suami ngenali suara istrinya? Caranya ya kalau keduanya sering ngobrol dan bergaul. Jadi kita bisa tahu itu suara Tuhan, ya kalau kita sering ngobrol dan bergaul sama Tuhan.” Bagi pa Yusak, iman Kristen itu bukanlah sekedar daftar panjang doktrin dan teori semata. Pa Yusak tidak menjawab pertanyaan di atas dengan definisi panjang dan batasan-batasan tentang apa itu suara Tuhan untuk membedakan dari suara Setan. Pengalaman dan kedekatan kita kepada Tuhan adalah pengujinya. Iman Kristen itu bagi pa Yusak adalah sesuatu yang riil yang dilahirkan dari hidup bergaul karib dengan Tuhan.

Saya mengetahui bahwa beberapa pemimpin Kristen dan kelompok-kelompok Kristen menilai pengajaran-pengajaran pa Yusak itu salah dan keliru. Ada juga yang mengatakan bahwa pengajaran dan kotbah pa Yusak itu menipu jemaat. Tulisan ini bukanlah tempat untuk mendebatkan komentar-komentar tersebut. Kalaupun benar bahwa pa Yusak salah, keliru dan menipu di dalam beberapa kotbah dan pengajarannya, maka seharusnya sekarang ini beliau sudah tahu – kan beliau sudah ketemu Tuhan. Dan saya yakin pa Yusak sudah minta maaf pada Tuhan. Jadi untuk teman-teman yang memiliki memori buruk tentang pa Yusak, ini saatnya untuk melupakan dan meninggalkannya. Sebaliknya kontribusi positif pa Yusak tentang kehidupan kristiani seperti yang saya coba sarikan di atas, kiranya dapat terus dilestarikan, digaungkan dan dialami oleh mereka yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Bon voyage pa Yusak. Saya yakin sekarang ini pa Yusak menikmati hari-hari terindah bersama dan mengalami Tuhan Yesus ‘tanpa batas.’

Tuesday, March 15, 2016

PETRUS AGUNG PURNOMO (20/03/1962-13/03/2016)


 Pada sekitar tahun 1979-1980, ketika saya baru saja mengambil keputusan terpenting di dalam hidup saya untuk percaya kepada Tuhan Yesus, ada seorang pemuda yang ‘literally’ membawa saya bertumbuh di dalam iman Kristen. Seminggu sekali ia menjemput saya dari rumah di Jalan Gedangan dengan Vespanya menuju rumah persekutuan Sangkakala yang pada waktu itu di Jalan Pringgading, Semarang. Setelah persekutuan anak-anak Sangkakala selesai, iapun mengantar saya pulang ke rumah. Sampai hari ini saya masih ingat rutenya, meskipun saya tidak ingat sama sekali jika ada pembicaraan yang penting selama di perjalanan bersamanya.

Pada awal-awal tahun 90-an, beberapa kali ibu saya mengajak saya untuk beribadah di gereja yang didirikannya pada tahun 1991. Lokasi gereja tersebut di kompleks Ruko di Jalan Hasanudin, dekat perumahan Tanah Mas, Semarang. Pada tahun 1993, saya melayani sepenuh waktu di Jaringan Doa Nasional yang memiliki visi untuk menggerakan doa syafaat di dalam kesatuan dan diantara gereja-Nya bagi bangsa dan negara. Salah satu tugas saya adalah bertemu dan membangun jaringan doa dengan hamba-hamba Tuhan di Indonesia. Dalam rangka tugas tersebut, saya menemuinya di rumahnya yang tidak jauh dari lokasi gereja pada waktu itu. Pada saat itu gerejanya sudah lumayan banyak jemaatnya, tetapi juga tidak besar-besar sekali. Yang pasti saya melihat gerejanya bertumbuh. Setelah sekian waktu berbicara mengenai gerakan doa, ia mengajak saya untuk menonton video ibadahKKR kesembuhan yang dilayani oleh Benny Hinn. Pada waktu itu saya menyadari bahwa ia sangat suka dengan Benny Hinn. By the way, ia masih ingat saya.

Pada tahun 2009, diadakanlah reuni 30 tahun kegerakan rohani di Semarang. Reuni diadakan di hotel Patra Jasa, Semarang. Sebelum acara dibuka, saya sapa dia dengan nama aslinya yang mungkin publik tidak tahu. Dan dia masih ingat saya. Kita hanya sempat ngobrol singkat saja – tidak ada yang penting. Empat tahun kemudian, ia hadir dan memimpin ibadah penghiburan ketika ayah saya meninggal dunia (Juli 2013). Di dalam penyampaian firman Tuhan, ia menyinggung pengalamannya bersama kedua orangtua saya.

Beberapa minggu yang lalu saya melihat foto-fotonya ketika berkunjung ke Amerika Serikat pada minggu awal February 2016. Ia nampak sehat. Namun hari Minggu kemarin ia harus pergi (pulang) ke rumah Bapa yang mengasihinya dan dikasihi-Nya. Manusia saya sedih karenanya – namun juga bahagia karenanya.

Sejak berita kepergiannya itu, banyak berita yang simpang siur. Dan itu menambah kesedihan saya. Beberapa komentar yang dimuat di media sosial nampak tidak sensitif sama sekali – terutama dari kelompok-kelompok Kristen yang 'berbeda warna' dengannya. Meskipun halus tapi tanpa disertai rasa empati. Kritik kepada keluarganya, kepada para pemimpin gerejanya, kepada jemaat yang dipimpinnya, dan pada akhirnya kepada pengajarannya. Kebetulan mereka yang 'berbeda warna' itu sebagian teman-teman baik saya juga.

Tapi saya masih bersyukur bahwa di antara banyak komentar-komentar yang beredar, saya terhibur kesan-kesan yang disampaikan oleh Ganjar Pranowo ketika melayat jenasah di gedung gereja, yang dinamai Holy Stadium

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengenang Pendeta Petrus Agung Purnomo sebagai pribadi yang gigih berjuang hingga akhir hayat. Ganjar menyatakan, keluarga Pendeta Petrus Agung sudah menerima kepergian pria yang meninggal akibat serangan jantung tersebut. "Waktu masih muda aktif merintis gereja. Perjuangannya sangat panjang dan perjalanan tanpa kenal lelah, sampai detik terakhir. Istri dan anaknya menerima. Saya melihat duka mendalam. Prosesnya tidak gampang untuk keluarga," kata Ganjar Pranowo di Gereja JKI Injil Kerajaan Holly Stadium, Semarang, Jawa Tengah, Senin 14 Maret 2016. Ganjar mengaku sudah mengenal lama Pendeta Petrus Agung jauh sebelum ia menjadi gubernur. "Saya kenal sudah lama. Bukan saat kampanye, melainkan saat aktif dalam bidang sosial, pendidikan, dan kebencanaan," ujar Ganjar.

Saya tidak ingin membelanya, keluarganya atau membela jemaatnya. Bagi saya apa yang terjadi di antara mereka adalah lumrah. Saya juga tidak ingin menilai orang-orang yang telah menghakiminya dan menghakimi jemaatnya. Karena mereka pun berlaku lumrah. Sayapun rentan untuk menjadi yang dihakimi dan yang menghakimi. Tapi bukan itu yang saya butuhkan hari-hari ini. Saya dan keluarganya, dan teman-teman baiknya dan jemaatnya membutuhkan penghiburan yang sejati.

Saya hanya sedih saja karena orang yang telah ‘literally’ membawa saya kepada pertumbuhan iman saya pada masa-masa iman itu masih kerdil kini telah tiada. Dan ketiadaannya secara nalar manusia adalah way too soon.